Sambarnyawa – Hutan dan Teriakan

Sambarnyawa

“Hutan dan Teriakan”

Hutan hampir selalu menjadi referensi bagi kesunyian, meski sunyi tidak pernah benar-benar ada. Ranting-ranting bergoyang terhempas angin, diiringi daun-daun yang berguguran. Lalu, bunyi-bunyi gesekan, terkadang mendesis, mendesau, dan menderu, silih berganti mengisi celah-celah pepohonan. Lebih seksama lagi, sayup-sayup suara burung atau fauna lainnya bersahut-sahutan. Dan hutan, kita tahu, menjadi penopang kehidupan semesta: menjaga keseimbangan, tempat bagi air dan udara bereproduksi, menyimpan ragam sumber daya yang melimpah. Di beberapa masyarakat non-urban, keberadaannya disakralkan. Mitos membalutnya dan diimani orang-orang yang hidup di sekelilingnya. Hutan disucikan, sekaligus ditakuti, angker, wingit.

Tapi, hutan juga menyimpan teriakan-teriakan. Sebelum pemukiman menjalar liar, hutan adalah medan laga pertempuran. Pangeran Sambernyawa bertahan dari gempuran tentara gabungan Kompeni dan Mataram di hutan Sitakepyak. Atau, taktik perang gerilya yang menjadikan hutan tempat persembunyian, seperti saat Perang Revolusi Indonesia dan Perang Vietnam. Di hutan pula, pembantaian sering terjadi. Berita-berita acap kali mengabarkan penemuan jasad pembunuhan. Ada juga kisah tentang pembantaian besar, seperti di Indonesia paska 1965. Mereka yang simpatisan atau dituduh penganut paham kiri, banyak yang dibunuh di dalam hutan, menyisakan lubang-lubang kuburan massal.
credits
released January 4, 2020

Albertus Arga Kacang – Vocal Utama dan Backing Vocal, Oscillator Gelombang Kotak
Gerry Pindonta – Bass, Gitar, Synthesizer, Tom Tom, Backing Vokal
Ian Pramana – Keyboard, Backing Vocal
Johanes Handjono – Bass, Synthesizer, Gitar, Backing Vokal
Riska Farasonalia – Drum, Perkusi, Backing Vocal

Artwork cover oleh Debby Selviana

Button: by-nc-nd