about

Since 2010, many netlabels and artists publish their new free music releases on the clongclongmoo website. Free means that you don't have to pay anything or register to download music. However, you can usually pay something to support the artists. Please note the licenses under which the music is published. This is important to know what you are allowed to do with the music. Please visit the labels' homepages to get the free music. Most files are published under a creative commons licence. At netlabellist you will find an extensive list of websites that also offer (or have offered) free music. If you run a netlabel yourself or offer your music for free and want to draw attention to it, you are welcome to use the submission form. And remember that clongclongmoo is not there to do business, because “Business Is Not My Music.”

update, February 1st, 2026

Dear friends and followers of clongclongmoo. It's great to have you here. As you may have noticed, the site has changed a bit. Some people wanted to be able to access the music with fewer clicks. That should work again now. Here's a quick note to everyone who uses relatively new platforms such as Mirlo, Faircamp, or Coop: feel free to use the submit form to draw attention to your new music. I'd especially appreciate hearing from anyone who runs a netlabel with free Creative Commons music. Thank you! Konrad from clongclongmoo

Sambarnyawa – Hutan dan Teriakan

Sambarnyawa – Hutan dan Teriakan

Sambarnyawa

“Hutan dan Teriakan”

Hutan hampir selalu menjadi referensi bagi kesunyian, meski sunyi tidak pernah benar-benar ada. Ranting-ranting bergoyang terhempas angin, diiringi daun-daun yang berguguran. Lalu, bunyi-bunyi gesekan, terkadang mendesis, mendesau, dan menderu, silih berganti mengisi celah-celah pepohonan. Lebih seksama lagi, sayup-sayup suara burung atau fauna lainnya bersahut-sahutan. Dan hutan, kita tahu, menjadi penopang kehidupan semesta: menjaga keseimbangan, tempat bagi air dan udara bereproduksi, menyimpan ragam sumber daya yang melimpah. Di beberapa masyarakat non-urban, keberadaannya disakralkan. Mitos membalutnya dan diimani orang-orang yang hidup di sekelilingnya. Hutan disucikan, sekaligus ditakuti, angker, wingit.

Tapi, hutan juga menyimpan teriakan-teriakan. Sebelum pemukiman menjalar liar, hutan adalah medan laga pertempuran. Pangeran Sambernyawa bertahan dari gempuran tentara gabungan Kompeni dan Mataram di hutan Sitakepyak. Atau, taktik perang gerilya yang menjadikan hutan tempat persembunyian, seperti saat Perang Revolusi Indonesia dan Perang Vietnam. Di hutan pula, pembantaian sering terjadi. Berita-berita acap kali mengabarkan penemuan jasad pembunuhan. Ada juga kisah tentang pembantaian besar, seperti di Indonesia paska 1965. Mereka yang simpatisan atau dituduh penganut paham kiri, banyak yang dibunuh di dalam hutan, menyisakan lubang-lubang kuburan massal.
credits
released January 4, 2020

Albertus Arga Kacang – Vocal Utama dan Backing Vocal, Oscillator Gelombang Kotak
Gerry Pindonta – Bass, Gitar, Synthesizer, Tom Tom, Backing Vokal
Ian Pramana – Keyboard, Backing Vocal
Johanes Handjono – Bass, Synthesizer, Gitar, Backing Vokal
Riska Farasonalia – Drum, Perkusi, Backing Vocal

Artwork cover oleh Debby Selviana

Button: by-nc-nd
posted 06 January 2020